Jumat, 29 April 2011

MELAKSANAKAN UPAYA PROMOTIF DAN PREVENTIVE MENURUT LEAVEL & CLARK- Sub Bagian Disabilitation


A. LATAR BELAKANG

            Dahulu, pembicaraan tentang organ reproduksi selalu dianggap tabu. Jangankan untuk konsultasi ke dokter, sekadar bertanya kepada orang terdekat ( orangtua ) saja merasa malu dan sungkan. Oleh karena itu, pengetahuan masyarakat akan hal-hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi tergolong rendah. Hal ini bisa menjadi pemicu munculnya berbagai macam keluhan dan permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
            Organ reproduksi adalah salah satu bagian terpenting dalam tubuh manusia yang memiliki peran besar dan tergantikan oleh organ yang lain. Mengapa organ ini penting? Karena manusia memiliki naluri alamiah, yaitu ingin memiliki keturunan, guna melestarikan jenisnya. Dampaknya, organ reproduksi yang sehat dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya menjadi sebuah hal yang dituju.
Pengetahuan tentang kesehatan organ reproduksi, sangat perlu dibahas dan diketahui oleh kaum wanita, baik yang sudah menjadi ibu-ibu maupun bagi remaja putri, agar dapat menjaga kesehatan dan memfungsikan organ reproduksi secara benar dan bertanggung jawab.
            Dengan upaya upaya penyebarluasan pengetahuan kesehatan organ reproduksi secara massive, maka kita telah dapat disebut melakukan pencegahan secara promotif dan preventif.

B.        TUJUAN UMUM
            Secara umum tujuan Pembuatan makalah ini adalah mengetahui upaya promotif dan preventive melalui metode leavel & clark.
C.                TUJUAN KHUSUS
            Setelah membahas materi ini, mahasiswa diharapkan mampu . menjelaskan Health promotion, Specific protection, Early diagnosis and Promotip treatment, Disabilitation menurut leavel and Clark.
LANDASAN TEORI

Kesehatan Masyarakat (Public Health) adalah ilmu & seni mencegah penyakit, memeperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik , mental & efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisasi untuk meningkatkan sanitasi lingkungan, control infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis & perawatan, untuk melakukan diagnosa dini, pencegahan penyakit & pengembanagan aspek social, yang akan mendukung agar setiap warga masyarakat mempunyai standar kehidupan yg kuat untuk menjaga kesehatannya.( Fitramaya Yuni, 2008. Kesehatan Reproduksi.. Yogyakarta )
Promosi kesehatan/pendidikan kesehatan merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang mempunyai dua sisi, yakni sisi ilmu dan sisi seni. Dilihat dari sisi seni, yakni praktisi atau aplikasi pendidikan kesehatan adalah merupakan penunjang bagi program-program kesehatan lain. Ini artinya bahwa setiap program kesehatan yang telah ada misalnya pemberantasan penyakit menular/tidak menular, program perbaikan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, upaya kesehatan ibu dan anak, program pelayanan kesehatan dan lain sebagainya sangat perlu ditunjang serta didukung oleh adanya promosi kesehatan. (iqbal-iqi.blogspot.com/2008)
Dalam hal ini organisasi kesehatan dunia WHO telah merumuskan suatu bentuk definisi mengenai promosi kesehatan :

“ Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and improve, their health. To reach a state of complete physical, mental, and social, well-being, an individual or group must be able to identify and realize aspirations, to satisfy needs, and to change or cope with the environment “. (Ottawa Charter,1986).

Jadi, dapat disimpulkan dari kutipan diatas bahwa Promosi Kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan sebagainya).

Selanjutnya, Australian Health Foundation merumuskan batasan lain pada promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
“ Health promotion is programs are design to bring about “change”within people, organization, communities, and their environment ”.
Artinya bahwa promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi dan lingkungannya.
Dengan demikian bahwa promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan (Green dan Ottoson,1998).
Ruang Lingkup Promosi Kesehatan Menurut Prof.Dr. Soekidjo Notoadmodjo, ruang lingkup promosi kesehatan dapat dilihat dari 2 dimensi yaitu: a).dimensi aspek pelayanan kesehatan, dan b).dimensi tatanan (setting) atau tempat pelaksanaan promosi kesehatan.
1.Ruang Lingkup Berdasarkan Aspek Kesehatan
Secara umum bahwa kesehatan masyarakat itu mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Sedangkan ahli lainnya membagi menjadi hanya dua aspek saja, yakni :
a. Aspek promotif dengan sasaran kelompok orang sehat, dan
b. Aspek preventif (pencegahan) dan kuratif (penyembuhan) dengan sasaran kelompok orang yang memiliki resiko tinggi terhadap penyakit dan kelompok yang sakit.
Dengan ini maka ruang lingkup promosi kesehatan di kelompok menjadi dua yaitu :
a. Pendidikan kesehatan pada aspek promotif.
b. Pendidikan kesehatan pada aspek pencegahan dan penyembuhan.
PEMBAHASAN

Perhatian utama dalam promosi kesehatan adalah mengetahui visi serta misi yang jelas. Dalam konteks promosi kesehatan “ Visi “ merupakan sesuatu atau apa yang ingin dicapai dalam promosi kesehatan sebagai salah satu bentuk penunjang program-program kesehatan lainnya. Tentunya akan mudah dipahami bahwa visi dari promosi kesehatan tidak akan terlepas dari koridor Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 tahun 1992 serta organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization).
Adapun visi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut :

1. Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial.
2. Pendidikan kesehatan disemua program kesehatan, baik pemberantasan penyakit menular, sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program kesehatan lainnya dan bermuara pada kemampuan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan individu, kelompok, maupun masyarakat.
Dalam mencapai visi dari promosi kesehatan diperlukan adanya suatu upaya yang harus dilakukan dan lebih dikenal dengan istilah “ Misi ”. Misi promosi kesehatan merupakan upaya yang harus dilakukan dan mempunyai keterkaitan dalam pencapaian suatu visi.
Secara umum Misi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Advokasi (Advocation)
Advokasi merupakan perangkat kegiatan yang terencana yang ditujukan kepada para penentu kebijakan dalam rangka mendukung suatu isyu kebijakan yang spesifik. Dalam hal ini kegiatan advokasi merupakan suatu upaya untuk mempengaruhi para pembuat keputusan (decission maker) agar dapat mempercayai dan meyakini bahwa program kesehatan yang ditawarkan perlu mendapat dukungan melalui kebijakan atau keputusan.
2. Menjembatani (Mediate)
Kegiatan pelaksanaan program-program kesehatan perlu adanya suatu kerjasama dengan program lain di lingkungan kesehatan, maupun lintas sektor yang terkait. Untuk itu perlu adanya suatu jembatan dan menjalin suatu kemitraan (partnership) dengan berbagai program dan sektor-sektor yang memiliki kaitannya dengan kesehatan. Karenanya masalah kesehatan tidak hanya dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap masalah kesehatan tersebut. Oleh karena itu promosi kesehatan memiliki peran yang penting dalam mewujudkan kerjasama atau kemitraan ini.

3. Kemampuan/Keterampilan (Enable)
Masyarakat diberikan suatu keterampilan agar mereka mampu dan memelihara serta meningkatkan kesehatannya secara mandiri. Adapun tujuan dari pemberian keterampilan kepada masyarakat adalah dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga sehingga diharapkan dengan peningkatan ekonomi keluarga, maka kemapuan dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan keluarga akan meningkat.
Dalam perkembangan selanjutnya untuk mengatasi masalah kesehatan termasuk penyakit di kenal tiga tahap pencegahan:
  1. Pencegahan primer: promosi kesehatan (health promotion) dan perlindungan khusus (specific protection).
  2. Pencegahan sekunder: diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), pembatasan cacat (disability limitation)
  3. Pencegahan tersier: rehabilitasi.
Dilihat dr dimensi tingkat pelayanan kesehatan, dapat dilakukan berdasarkan 5(lima)tingkat pencegahan (five levels of prevention)  dr Leavel and Clark, sebagai berikut:
Pencegahan primer dilakukan pada masa individu belum menderita sakit, upaya yang dilakukan ialah:
  1. Promosi kesehatan/health promotion yang ditujukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap masalah kesehatan.
  2. Perlindungan khusus (specific protection): upaya spesifik untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi, peningkatan ketrampilan remaja untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi stress dan lain-lain.
Pencegahan sekunder dilakukan pada masa individu mulai sakit
  1. Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), tujuan utama dari tindakan ini ialah 1) mencegah penyebaran penyakit bila penyakit ini merupakan penyakit menular, dan 2) untuk mengobati dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat.

  1. Pembatasan cacat (disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi diatasi, terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi.
Pencegahan tersier
  1. Rehabilitasi, pada proses ini diusahakan agar cacat yang di derita tidak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal secara fisik, mental dan sosial.
Adapun skema dari ketiga upaya pencegahan itu dapat di lihat pada gambar dua. Pada gambar dua proses perjalanan penyakit dibedakan atas a) fase sebelum orang sakit: yang ditandai dengan adanya keseimbangan antara agen (kuman penyakit, bahan berbahaya), host/tubuh orang dan lingkungan dan b) fase orang mulai sakit: yang akhirnya sembuh atau mati.
Selain upaya pencegahan primer, sekunder dan tersier yang dikalangan dokter dan praktisi kesehatan masyarakat dikenal sebagai lima tingkat pencegahan, juga dikenal empat tahapan kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat, empat tahapan itu (Rossenberg, Mercy and Annest, 1998) ialah:
  1. Apa masalahnya (surveillance). Identifikasi masalah, apa masalahnya, kapan terjadinya, dimana, siapa penderitanya, bagaimana terjadinya, kapan hal itu terjadi apakah ada kaitannya dengan musim atau periode tertentu.
  2. Mengapa hal itu terjadi (Identifikasi faktor resiko). Mengapa hal itu lebih mudah terjadi pada orang tertentu, faktor apa yang meningkatkan kejadian (faktor resiko) dan faktor apa yang menurunkan kejadian (faktor protektif).
  3. Apa yang berhasil dilakukan (evaluasi intervensi). Atas dasar kedua langkah terdahulu, dapat di rancang upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah, menanggulangi dengan segera penderita dan melakukan upaya penyembuhan dan pendampingan untuk menolong korban dan menilai keberhasilan tindakan itu dalam mencegah dan menanggulangi masalah.
  4. Bagaimana memperluas intervensi yang efektif itu (implementasi dalam skala besar). Setelah diketahui intervensi yang efektif, tindakan selanjutnya bagaimana melaksanakan intervensi itu di pelbagai tempat dan setting dan mengembangkan sumber daya untuk melaksanakannya.
Pembatasan cacat (disability limitation)
Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan & penyakit, maka seorang masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas. Dengan kata lain mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap penyakitnya.Sehingga pengobatan yang tidak layak dan sempurna akan dapat mengakibatkan orang yang bersangkutan cacat atau berketidakmampuan, oleh karena itu pendidikan kesehatan juga diperlukan pada tahap ini. Karena penanganan secara tuntas pada kasus-kasus infeksi organ reproduksi dapat mencegah terjadinya infertilitas.


BAB III
KESIMPULAN

5 tingkat pencegahan (five levels of prevention)  dr Leavel and Clark dapat dikelompokkan menjadi ;
-   Pencegahan primer, meliputi ; Promosi kesehatan (health promotion) dan Perlindungan khusus (specific protection)
-   Pencegahan sekunder, meliputi ; Diagnosis dini & pengobatan segera (early diagnosis and promt treatment) dan Pembatasan cacat (disability limitation)
-    Pencegahan tersier, meliputi ; Rehabilitasi (rehabilitation)




DAFTAR PUSTAKA

-          Fitramaya Yuni, 2008. Kesehatan Reproduksi.. Yogyakarta
-          Promosi Kesehatan, iqbal-iqi.blogspot.com/2008


Sabtu, 02 April 2011

Sejarah Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Bidan di Luar Negeri


A. Latar Belakang

Pelayanan kebidanan adalah seluruh tugas yang menjadi tanggung jawab profesi bidan dalam sistem pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan kaum perempuan khususnya ibu dan anak-anak.
Layanan kebidanan yang tepat akan meningkatan keamanan dan kesejahteraan ibu dan bayinya. Layanan kebidanan/oleh bidan dapat dibedakan meliputi:
a. Layanan kebidanan primer yaitu layanan yang diberikan sepenuhnya atas tanggung jawab bidan.
b. Layanan kolaborasi yaitu layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim secara bersama-sama dengan profesi lain dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan.
c. Layanan kebidanan rujukan yaitu merupakan pengalihan tanggung jwab layanan oleh bidan kepada sistem layanan yang lebih tinggi atau yang lebih kompeten ataupun pengambil alihan tanggung jawab layanan/menerima rujukan dari penolong persalinan lainnya seperti rujukan.
Mulai tahun 1990 pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat. Kebijakan ini melalui Instruksi Presiden secara lisan pada Sidang Kabinet Tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa. Adapun tugas pokok bidan di desa adalah sebagai pelaksana kesehatan KIA, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk pembinaan dukun bayi. Dalam melaksanakan tugas pokoknya bidan di desa melaksanakan kunjungan rumah pada ibu dan anak yang memerlukannya, mengadakan pembinaan pada Posyandu di wilayah kerjanya serta mengembangkan Pondok Bersalin sesuai denga kebutuhan masyarakat setempat. Hal tersebut di atas adalah pelayanan yang diberikan oleh bidan di desa. Pelayanan yang diberikan berorientasi pada kesehatan masyarakat berbeda halnya dengan bidan yang bekerja di rumah sakit, dimana pelayanan yang diberikan berorientasi pada individu. Bidan di rumah sakit memberikan pelayanan poliklinik antenatal, gangguan kesehatan reproduksi di poliklinik keluarga berencana, senam hamil, pendidikan perinatal, kamar bersalin, kamar operasi kebidanan, ruang nifas dan ruang perinatal.
Titik tolak dari Konferensi Kependudukan Dunia di Kairo pada tahun 1994 yang menekankan pada reproduktive health (kesehatan reproduksi), memperluas area garapan pelayanan bidan. Area tersebut meliputi:
1. Safe Motherhood, termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus
2. Family Planning 
3. Penyakit menular seksual termasuk infeksi saluran alat reproduksi
4. Kesehatan reproduksi pada remaja
5. Kesehatan reproduksi pada orang tua.
Dalam melaksanakan tugasnya, bidan melakukan kolaborasi, konsultasi dan merujuk sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan dan kemampuannya.
Dalam keadaan darurat bidan juga diberi wewenang pelayanan kebidanan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa. Dalam aturan tersebut juga ditegaskan bahwa bidan dalam menjalankan praktek harus sesuai dengan kewenangan, kemampuan, pendidikan, pengalaman serta berdasarkan standar profesi. Pencapaian kemampuan bidan sesuai dengan Kepmenkes No. 900/2002 tidaklah mudah, karena kewenangan yang diberikan oleh Departemen Kesehatan ini mengandung tuntutan akan kemampuan bidan sebagai tenaga profesional dan mandiri.
            Uraian di atas merupakan sebagian dari tugas dan wewenang dari bidan yang ada di dalam negeri dan disini kita juga akan membahas dan melihat bagaimana sejarah  perkembangan bidan yang ada di luar negeri.


LANDASAN TEORI



            Pada pertengahan abad ke – 17, bidan adalah profesi penting di komunitas kolonial Belanda. Kebidanan hanya salah satu bentuk pelayanan yang diberikan para bidan kepada komunitas kolonial. Pada saat itu, kadang kala bidan juga berperan sebagai perawat yang merawat orang sakit dan sekarat, mengurus jenazah, sebagai herbalis, serta dokter hewan. Selain gaji sebagai imbalan, bidan juga memperoleh rumah, tanah, dan makanan sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka.
            Akan tetapi, terdapat berbagai faktor yang menurunkan derajat bidan di masyarakat.
Faktor – faktor tersebut mencakup:
1.      Perilaku  Religius
2.      Kebutuhan Ekonomi
3.      Pengambilalihan tugas dan tanggung jawab oleh Dokter
4.      Pendidikan yang tidak mendukung dan tidak adanya organisasi kebidanan
5.      Peningkatan jumlah imigran
6.      Status wanita yang direndahkan.
Tidak lupa juga penulis akan membahas tentang perkembangan pendidikan kebidanan yang ada di Luar Negeri.
PEMBAHASAN  TEORI


A.                 Perkembangan Pelayanan Kebidanan di Luar Negeri
    1. Perilaku religius
Pada awal abad ke – 17, banyak bidan berasal dari inggris yang keberadaannya merupakan bantuan dari pihak gereja sehingga penilaian moral lebih ditekankan. Seorang bidan dituntut untuk memiliki karakter/prilaku yang baik. Bidan tersebut di sumpah dan memiliki kewenangan untuk mendengarkan pengakuan dosa dan melakukan pembaptisan.Akan tetapi, kewenangan tersebut menimbulkan kontrofersi karena dalam sumpahnya,seorang bidan juga harus bertanya dan memaksa ibu untuk mengatakan ayah sang bayi yang sebenarnya. Hal ini tentunya dianggap sebagian besar orang tidak etis. Selain itu, para bidan di daerah pedesaan seringkali dianggap sebagai penyihir, khususnya bila bay i yang lahir cacat.
    1. Kebutuhan ekonomi
Pada awal abad ke-18, imbalan yang diberikan kepada bidan tidak lagi mencukupi.Bidan hidup dalam ekonomi yang morat-marit,meskipun mereka tinggal di kota besar. Pada saat itu, tidak ada lembaga atau organisasi yang mengatur standar upah yang layak bagi bidan.
    1. Pengambilalihan tugas dan tanggung jawab oleh dokter.
Pada awal abad ke-18 itu pula masyarakat kelas atas cenderung lebih percaya pada dokter yang didominasi pria sehingga mereka meremehkan keberadaan bidan yang sebagian besar adalah wanita.Bahkan dokter Walter Channing,lulusan Harvard dengan tegas berpendapat dalam bukunya bahwa ia tidak setuju dengan keberadaan bidan wanita.


    1. Pendidikan yang tidak mendukung dan tidak adanya organisasi kebidanan.
Abad ke-18 dan 19 merupakan titik pesatnya perkembang
an dunia medis,keperawatan, serta praktek obstetri. Tetapi sayangnya, perkembangan ini tidak dialami profesi kebidanan.Tidak ada sistem yang terorganisasi untuk pendidikan bagi bidan. Kurangnya sekolah formal kebidanan, tidak adanya organisasi kebidanan dan jurnal ilmiah dalam skala nasional, serta pengakuan legal terhadap profesi kebidanan membatasi komunikasi diantara sesama bidan sehingga membuat mereka terisolasi satu sama lain. Keterbatasan ini menyebabkan pelayanan kebidanan yang diberikan lebih banyak berdasarkan praktik kebidanan yang turun menurun, belajar dari pengalaman, melalui penggunaan obat-obatan tradisional, dan lewat doa, karena hanya itulah yang bisa dilakukan.
    1. Peningkatan jumlah imigran
Pada masa revolusi industri, sejumlah negara mengalami peningkatan imigrasi, namun kondisi kebidanan masih tetap sama. Hal ini terjadi karena banyak bidan imigran yang tidak bisa berbahasa Inggris dan tidak memiliki akses ke sistem pelayanan kesehatan yang ada, khususnya bidan kulit hitam, karena masalah rasisme.
    1. Status wanita yang direndahkan
Turunnya pamor bidan di masyarakat diperburuk dengan status wanita yang direndahkan saat itu, Wanita di pandang sebagai obyek eksploitasi secara ekonomi, dan dianggap tidak kompeten dalam bidang politik dan sosial. Peran pria yang sangat mendominasi di masyarakat menjadikan posisi bidan terpojok dan acap kali disalahkan bila terjadi kematian pada ibu dan bayi. Pada tahun 1906, diadakan penelitian mengenai kematian ibu dan anak di New York.Penelitian ini menunjukkan bahwa 40 persen persalinan dilakukan oleh bidan yang tidak kompeten, walaupun kelalaian dokter turut menjadi faktor penyebab.


Tingginya angka kematian ibu juga disebabkan oleh faktor-faktor berikut :
1.      Rumah sakit tidak dianggap sebagai tempat perawatan obststri sehingga tidak tersedia sumber daya yang cukup untuk mengatasi keadaan darurat atau komplikasi.
2.      Materi pengajaran mengenai obstetri tidak dianggap penting sehingga sering diabaikan.
3.      Praktek obstetri hanya terbatas pada periode intrapartum dan postpartum saja.
4.      Sedikitnya peraturan yang mengatur kewenangan dan tanggung jawab bidan.

  1. Pelayanan dan pendidikan bidan di beberapa negara.

    1.         Pelayanan Bidan di Afrika Selatan
    Perusakan Hindia Belanda timur yang membentuk tempat makanan dan minuman di semenanjung. Mempunyai prakiran-prakiraan yang menyakir praktek para bidan yang dapat diterpkan di semenannjung tersebut. Tapi mereka tidak menunjuk bidan pemerintah atau bidany ang sudah diangkat sumpah selama beberapa tahun peraturan-peraturan tersebut menetapkan bahwa para bidan harus diuji dan dan diberi lisensi/izin, dan mereka harus memanggil pertolongan medis bila ada indikasi. Saat penempatan dipeluas, wanita di desa khususnya harus ditolong oleh wanita yang lebih tua belum dilathi dari masyarakat. Bidan pemerintah memperoleh penghargaan yang tinggi salah satu dari mereka. Alkta Kaisters, ditunjuk pada tahun 1687 sebagai kepala keperawatan di rumah sakit persahaan, dan menjadi bidan pertama yang melaksanakan tugas-tugas perawatan umum sebagaimana tugas-tugas kebidanan. Pelayanan kebidanan pertama diberikan sekaligus oleh pagawi pemerintah dan bidan swasta dilebih banyak wilayah berkembang, sementara masyarakat pedesaan dilayani oleh wanita penuh baya yang belum terlatih dengan pengalaman kebidanan “outansi” yang seringkali melaksanakan perawatan umum dan bahkan pelayanan untuk hewan peliharaan juga dalam beberapa hal/keadaan. Situasi itu masih berlaku. Terlihat dimana terdapat sedikit perkembangan dalam pelayanan dan pelatihan kebidanan sampai awal abad ke 19 dibawah pemerintahan Batavia yang mengambil alih semenanjung dari perusahan Hindia-Belanda timur yang bubar, seorang dokter bedah bernama Dr Leishing mereka mendasikan dimana telah didirikan sebuah sekolah kebidanan ini untuk mengganikan sistem magang perusahaan dan terjadi sebelum pendudukan British kedua di semenanjung tersebut. Komite Medis tertinggi meninjau kembali lisensi dokter, bidan dan apoteker dan menemukan bahwa enam bidan yang sudah mempunyai lisensi tidak memenuhi kriteria mereka. Ide pendirian sekolah kebidanan baru terlaksana pada tahun 1808, saat seirang dokter bedah dari pemerintah batavia terdahulu. Dr Johann Hunrich frederich carel leopold wehr, mengajukan permohonan oada guberbur semenanjung untuk mendirikan sekolah seperti itu. Dr Wehr sangat tertarik pada kebidanan, dan dia mengungkapkan perhatian yang besar pada kurangnya bidan yang berkualitas bagi Cape town dan daerah-daerahnya, dan standart asuhan kebidanan yang jelek yang di berikan oleh orang-orang yang tidak mempunyai lisensi/izin. Dia ditunjuk sebagai Accoucher kolonial dengan wewenang untuk melatih sejumlah besar bidan untuk melayani masyarakat. Dia akan membantu para bidan yang bekerja diantara orang miskin, tanpa bayarannya, tapi dia meminta gaji yang sesuai untuk mengimbangi pelayanannya di sana. Gubernur Earl of caledon menyetujuai pendirian sekolah tersebut pada tanggal 1 November 1810, dan Dr Wehr ditunjuk sebagai instruktur kolonial kebidanan. Dengan demikian, lahirlah sekolah profesional pertama dari jurusannya di Afrika selatan, dan pelatihan para bidan di mulai pada tahun 1811. Tujuh kandidat yang menyelesaikan pelatihan tersbeut dan terkualifikasi pada tahun 1813 merupakan profesional pertama yang terlatih dan terkualifikasi di Afrika Selatan. Kode etik yang diikrarkan dipegang rteguh saat mereka melakukan “Sumpah Jabatan” yang mencakup banyak elemen yang terwujud dalam kode etik/sikap saat ini. Kode ini meliputi persyaratan untuk ; prilaku pribadi/perorangan, hubungan dengan bidan yang lain, dengan dokter dan utusan agama, rahasia profesi, dan meminta bantuan medis jika diperlukan. Dua awal penting dalam sejarah kebidanan di Afrika Selatan terjadi selama periode ini. Kira-kira pada tahun 1809. Seorang utusan medis dari Misionary Society London, Dr. Van der kemp, menulis sebuah buku saku tentang kebidanan bagi pembantunya. Tampaknya ini merupakan buku kebidanan pertama yang ditulis di Afrika Selatan. Pada tahun 1816, operasi seksio caesarea pertama dilakukan pada isteri Mr. Thomas Munnik oleh Dr. James Barry. Anak tersebut diberi nama James Barry Munnik. Permulaan dan Pelatihan Modern Saudari Henrietha Stockdale. Tahap penting berikutnya dalam perkembangan pelatihan kebidanan digembor-gemborkan oleh kedatangan saudari Henrichtta stockdate di Afrika selatan, yang pada tahun 1867 dikirim oleh komunitasnya ke rumah sakit Carnarvon di Kimberly. Disini Dr James Prince, seorang dokter kanada, memutuskan untuk menyusun pelayanan kebidanan daerah dengan bantuan bidan Ella Ruth terdaftar sebagai perawat umum pada tahun 1919 dan sebagai seorang bidan pada tahun 1920, sehingga menjadi wanita kulit berwarna pertama yang memiliki kualifikasi ganda. Pelatihan kebidanan bagi orang kulit hitam dimulai sesudahnya, dan pada tahun 1927. dirumah sakit Mc card zulu di Duban, Beatrice Msimang menjadi wanita kulit hitam pertama yang menjadi perawat dan bidan yang terdaftar. Perkembangan-perkembangan pada tahun 20. Usia yang diizinkan masuk. Sebulum ada peraturan-peraturan dewan Medis Afrika Selatan, tidak ada penentuan batas usia. Beberapa sekolah menetapkan bahwa para siswa harus berusia 24-50 tahun, sekolah yang lain menetapkan 21-45 tahun. Semua sekolah mewajibkan orang yang sudah dewasa. Kebidanan bukan merupakan profesi yang diinginkan bagi gadis-gadis yang belum menikah. Kemudian, siswa perawat dan siswa bidan tidak diizinkan untuk menikah dan siapapun yang memnutuskan untuk menikah harus berhenti dari pelatihan. Pada tahun 1960-an, peraturan-peraturan tersebut diperlonggar, dan wanita yang sudah menikah diizinkan untuk melanjutkan pelatiha tahun 1923, sertifikat standar enam telah dapat diterima, kemudian muncul standart tujuh pada tahun 1929, kemudian standart delapan pada tahun 1949 dan pada tahun 1960, standart sepuluh merupakan standart pendidikan minimal yang diwajibkan.
    Pendidikan keperawatan dan kebidanan.
    Pendidikan bidan di Afrika Selatan
    Pada tahun 1923, sertifikat standar enam telah dapat diterima, kemudian muncul standart tujuh pada tahun 1929, kemudian standart delapan pada tahun 1949 dan pada tahun 1960, standart sepuluh merupakan standart pendidikan minimal yang diwajibkan. Silabus dan lamanya pelatihan. Pelatihan kebidanan ditetapkan oleh empat Dewan Medis (Neogara bagain Cape, natal, transual dan orange free) setelah dimulai di Cape pada tahun 1892, dan siswa harus menolong minimal 12 persalinan dan merawat 12 wanita pada masa puerperium. Pelatihan dilakukan dilapangan dan diruang perawatan rumah sakit kalau tersedia/ada. Sebagian besar pusat pelatihan merasa bahwa masa pelatihan terlalu pendek, dan pada tahun 1917, Asosiasi Perawat terlatih Afrika Selatan juga mengungkapkan ketidakpuasannya dengan kurangnya fasilitas. Sekolah pelatihan terlalu sedikit, dan kurangnya bed yang tersedia bagi pasien kebidanan. Asosiasi ini merekomendasikan : ketentuan rumah sakit kebidanan yang disubsidi oleh pemerintah yang lebih banyak untuk digunakan sebagai sekolah pelatihan; dimana pelatihan harus diperpenjang sampai minimal selama 6 bulan; dan dimana ketentuan tersebut harus meliputi pelatihan teorituis dan praktek di lapangan dan di ruang perawatan. Pada tahun 1919, sekolah perawatan kebidanan didirikan di bekas rumah Pal Kruger, dimana masa pelatihan 12 bulan jika siswanya belum menjadi perawat yang terdaftar. Dewan perawatan Afrika Selatan mengambil kembali pelatihan kebidanan pada tahun 1945, dan pada tahun 1949, masa pengajaran lebih lanjut meningkat menjadi 18 bulan bagi perawat yang belum terdaftar, dan 9 bulan bagi perawat uang sudah terdaftar. Pada tahun 1960, masa tersebut menjadi 24 bulan dan 12 bulan berturut-turut. Diwajibkan menolong persalinan sebanyak 30 persalinan dan 30 asuhan postnatal. Perawat yang belum terdaftar mengikuti ujian awal umum dengan siswa keperawatan umum. Sekarang ini, dan kadang-kadang secara kontroversi, pengajaran kebidanan termasuk dalam pengajaran selama 4 tahun, yang menuntun pada registrasi bagi seorang perawat (umum, psikiatrik dan komunitas) dan sebagai seorang bidan. Pada tahun 1977, laki-laki diizinkan mengikuti pengajaran kebidanan untuk pertama kalinya di Afrika Selatan. Bidan yang sudah terdaftar juga bisa melanjutkan ke Diploma dalam kebidanan dan /atau ke ilmu perawatan neonatal intensive, Pelatihan ADM diadakan di Rumah Sakit Mowbray pada tahun 1976, dan peraturan-p-eraturan bagi pelatihan diumumkan oleh Dewan perawatan Afrika Selatan pada bulan Agustus 1979. Kebidanan sebagai jurusan Kuliah di tingkat Universitas dapat diperoleh pada tingkat Doktor.


    2. Pelayanan Bidan di Amerika
    Di Amerika, para bidan berperan seperti dokter, berpengalaman tanpa pendidikan yang spesifik, standart-standart, atau peraturan-peraturan sampai pada awal abad ke 20. Kebidanan, sementara itu dianggap menjadi tidak diakui dalam sebagian besar yuridiksi (hukum-hukum) dengan istiklah “nenek tua” kebidanan akhirnya padam, profesi bidan hampir mati. Sekitar tahun 1700, para ahli sejarah memprediksikan bahwa angka kematian ibu di AS sebanyak 95%. Salah satu alasan kenapa dokter banyak terlibat dalam persalinan adalah untuk menghilangkan praktek sihir yang mash ada pada saat itu. Dokter memegang kendali dan banyak memberikan obat-obatan tetapi tidak mengindahkan aspek spiritual. Sehingga wnaita yang menjalani persalinan selalu dihinggapi perasaan takut terhadap kematian. Walaupun statistik terperinci tidak menunjukkan bahwa pasien-pasien bidan mungkin tidak sebanyak dari pada pasien dokter untuk kematian demam nifas atau infeksi puerperalis, sebagian besar penting karena kesakitan maternal dan kematian saat itu. Tahun 1765 pendidikan formal untuk bidan mulai dibuka pada akhir abad ke 18 banyak kalangan medis yang berpendapat bahwa secara emosi dan intelektual wanita tidak dapat belajar dan menerapkan metode obstetric. Pendapat ini digunakan untuk menjatuhkan profesi bidan, sehingga bidan tidak mempunyai pendukung, uang tidak terorganisir dan tidak dianggap profesional.
    Pada pertengahan abad antara tahun 1770 dan 1820, para wanita golongan atas di kota-kota di Amerika, mulai meminta bantuan “para bidan pria” atau para dokter. Sejak awal 1990 setengah persalinan di AS ditangani oleh dokter, bidan hanya menangani persalinan wanita yang tidak mampu membayar dokter. Dengan berubahnya kondisi kehidupan di kora, persepsi-persepsi bartu para wanita dan kemajuan dalam ilmu kedokteran, kelahiran menjadi semakin meningkat dipandang sebagai satu masalah medis sehingga di kelola oleh dokter. Tahun 1915 dokter Joseph de lee mengatakan bahwa kelahiran bayi adalah proses patologis dan bidan tidak mempunyai peran di dalamnya, dan diberlakukannya protap pertolongan persalinan di AS yaitu : memberikan sedatif pada awal inpartu, membiarkan serviks berdilatasi memberikan ether pada kala dua, melakukan episiotomi, melahirkan bayi dengan forcep elstraksi plasenta, memberikan uteronika serta menjahit episiotomi. Akibat protap tersebut kematian ibu mencapai angka 600-700 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1900-1930, dan sebanyak 30-50% wanita melahirkan di rumah sakit. Dokter Grantly Dicke meluncurkan buku tentang persalinan alamiah. Hal ini membuat para spesialis obstetric berusaha meningkatkan peran tenaga diluar medis, termasuk  bidan.
    Pada waktu yang sama karena pelatihan para medis yang terbatas bagi para pria, para wanita kehilangan posisinya sebagai pembantu pada persalinan, dan suatu peristiwa yang dilaksanakan secara tradisional oleh suatu komunitas wanita menjadi sebuah pengalaman utama oleh seorang wanita dan dokternya. Tahun 1955 American College of Nurse – Midwives (ACNM) dibuka. Pada tahun 1971 seorang bidan di Tennesse mulai menolong persalinan secara mandiri di institusi kesehatan. Pada tahun 1979 badan pengawasan obat Amerika mengatakan bahwa ibu bersalin yang menerima anasthesi dalam dosisi tinggi telah melahirkan anak-anak melahirkan anak-anak yang mengalami kemunduran perkembangan psikomotor. Pernyataan ini membuat masyarakat tertarik pada proses persalinan alamiah, persalinan di rumah dan memacu peran bidan. Pada era 1980-an ACNM membuat pedoman alternatif lain dalam homebirth. Pada tahun yang sama dibuat legalisasi tentang opraktek profesional bidan, sehingga membuat bidan menjadi sebuah profesi dengan lahan praktek yang spesifik dan membutuhkan organisasi yang mengatur profesi tersebut. Pada tahun 1982 MANA (Midwive Alliance Of North America) di bentuk untuk meningkatkan komunikiasi antar bidan serta membuat peraturan sebagai dasar kompetensi untuk melindungi bidan. DI beberapa negara seperti Arizona, bidan mempunyai tugas khusus yuaitu melahirkan bayi untuk perawatan selanjutnya seperti merawat bayi, memberi injeksi bukan lagi tugas bidan, dia hanya melakukan jika diperlukan namun jarang terjadi.
    Bidan menangani 1,1% persalinan di tahun 1980 : 5,5% di tahun 1994. Angka sectio caesaria menurun dari 25% (1988) menjadi 21% (1995). Penggunaan forcep menurun dari 5,5% (1989) menjadi 3,8% (1994). Dunia kebidanan berkembang saat ini sesuai peningkatan permintaan untuk itu profesi kebidanan tidak mempunyai latihan formal, sehingga ada beberapa tingkatan kemampuan, walaupun begitu mereka berusaha agar menjadi lebih dipercaya, banyak membaca dan pendekatan tradisional dan mengurangi teknik invasif untuk pertolongan seperti penyembuhan tradisional.
    Hambatan-hambatan yang dirasakan oleh bidan Amerika Serikat saat ini antara lain:
    • Walaupun ada banyak undang-undang baru, direct entry midwives masih dianggap iolegal dibeberapa negara bagian.
    • Lisensi praktek berbeda tiap negara bagian, tidak ada standart nasional sehingga tidak ada definisi yang jelas tentang bidan sebagai seseorang yang telah terdidik dan memiliki standart kompetensi yang sama.
    Sedikit sekali data yang akurat tentang direct entry midwives dan jumlah data persalinan yang mereka tangani.
    • Kritik tajam dari profesi medis kepada diret entry midwives ditambah dengan isolasi dari system pelayanan kesehatan pokok telah mempersulit sebagian besar dari mereka untuk memperoleh dukungan medis yang adekuat bila terjadi keadaan gawat darurat. Pendidikan kebidanan biasanya berbentuk praktek lapangan, sampai saat ini mereka bisa menangani persalinan dengan pengalaman sebagai bidan. Bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan selam 4 tahun dan praktek lapangan selama 2 tahun, yang mana biaya yang sangat mahal. Kebidanan memiliki sebuah organisasi untuk membentuk standart, menyediakan sertifikat dan membuat ijin praktek. Saat ini AS merupakan negara yang menyediakan perawatan maternitas termahal di dunia, tetapi sekaligus merupakan negara industri yang paling buruk dalam hasil perawatan natal di negara-negara industri lainnya.


3. Pelayanan Bidan di Australia
Florence Nightingale adalah pelopor kebidanan dan keperawatan yang dimulai dengan tradisi dan latihan-latihan pada abad 19. Tahun 1824 kebidanan masih belum di kenal sebagai bagian dari pendidikan medis di Inggris dan Australia dimulai pada tahun 1862. Lulusan itu dibekali dengan pengethuan teori dan praktek. Pendidikan Diploma Kebidanan dimulai tahun 1893, dan sejak tahun 1899 hanya bidan sekaligus perawat yang terlatih yang boleh bekerja di rumah sakit. Sebagian besar wanita yang melahirkan tidak dirawat dengan selayaknya oleh masyarakat. Ketidakseimbangan seksual dan moral di Australia telah membuat prostitusi berkembang dengan cepat. Hal ini menyebabkan banyak wanita hamil di luar nikah dan jarang mereka dapat memperoleh pelayanan dari bidan atau dokter karena pengaruh social mereka atau pada komunitas tyang terbatas, meskipun demikian di Australi bidan tidak bekerja sebagai perawat, mereka bekerja sebagaimana layaknya seorang bidan. Pendapat bahwa seseorang bidan haru reflek menjadi seorang perawat dan program pendidikan serta prakteknya banyak di buka di beberapa tempat dan umumnya dibuka atau disediakan oleh Non Bidan.
Pendidikan bidan di Australia
Kebidanan di Australia telah mengalami perkembangan yang mengalami pesat sejak 10 tahun terakhir. Dasar pendidikan telah berubah dari traditional hospital base programme menjadi tertiary course of studies menyesuaikan kebutuhan pel;ayanan dari masyarakat. Tidak semua institusi pendidikan kebidanan di Australi telah melaksanakan perubahan ini, beberapa masih menggunakan proram pendidikan yang berorientasi pada rumah sakit. Kurikulum pendidikan disusun oleh staf akademik berdasarkan pada keahlian dan pengalaman mereka di lapangan kebidanan. Kekurangan yang dapat dilihat dari pendidikan kebidanan di Australia hampir sama dengan pelaksanaan pendidikan bidan di Indonesia. Belum ada persamaan persepsi mengenai pengimplementasian kurikulum pada masing-masing institusi, sehingga lulusan bidan mempunyai kompetensi klinik yang berbeda tergantung pada institusi pendidikannya. Hal ini ditambah dengan kurangnya kebijaksanaan formal dan tidak adanya standar nasional menurut National Review of Nurse Education 1994, tidak ada direct entry. Pada tahun 1913 sebanyak 30% persalinan ditolong oleh bidan. Meskipun ada peningkatan jumlah dokter yang menangani persalinan antara tahun 1900 sampai 1940, tidak ada penurunan yang berarti pada angka kematian ibu dan bidanlah yang selalu disalahkan akan hal itu. Kenyataannya wanita jelas menengah ke atas yang ditangani oleh dokter dalam persalinannya mempunyai resiko infeksi yang lebih besar daripada wanita miskin yang ditangani oleh Bidan.
Masalah Profesional
Tugas pertama yang sulit adalah meneliti kembali nama bidan itu sendiri, itu tidak sama dengan ketika latihan dalam praktek kebidanan. Bidan sangat penting di pelayanan kesehatan sejak Perang Dunia II dan proporsi yang besar di rumah sakit sebagai pusat pelayanan kesehatan utnuk daerah sekitar rumah sakit tersebut. Peningkatan rumah sakit dan persatuan perawat dan peningkatan ahli kebidanan yang lebih menekankan pada teknologi menyebabkan mundurnya kebidanan. Tapi situasi itu berakhir pada saat Amerika Utara menilai kepemimpinan perawat dan kepemimpinan bidan yang memutuskan bahwa bidan berhak mendapat penghargaan pertama dan penghargaan kedua diberikan kepada keperawatan. Penghargaan itu sangat penting untuk peningkatan profesi kebidanan. Kita tahu di beberapa negara mengkombinasikan keperawatan dan kebidanan dalam seorang tenaga kesehatan, hal itu terjadi di pulau kecil dan pelatihan klinik sekarang semakin baik menuju standar internasional sedikit lebih baik daripada masa yang lalu. Pengembangan Profesi Bidan
Pemerintah melihat adanya peningkatan kebidanan dengan pemberian asuhan yang bermanfaat. Shearman Report (NSWI, 1989) telah menemukan cara awal untuk mengatur strategi perawatan yang berkesinambungan. Having a baby in Victoria (Depkes Viktoria, 1990) melaporkan sebuah revie pelayanan kesehatan di Viktoria yang dibutuhkan pada orientasi pelayanan kesehatan pada wanita dan keluarga. Maksudnya pemeliharaan kesehatan yang lebih baiki. “Perawatan efektif pada kelahiran” CNH dan MRC, 1996 menyimpulkan bahwa perawatan yang berkesinambungan akan menjadi tujuan perawatan kesehatan ibu.
DAFTAR PUSTAKA



http://www.bidanindonesia.org/index.asp?part=14
=en
http://retter13megapixel.multiply.com/journal/item/25/Sejarah_Pendidikan_dan_Pelayanan_Bidan_di_Jepang
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/11/02/profesi-bidan-di-indonesia/
Dra. Hj. Suryani Soepardan , Dipl.M, MM : Konsep Kebidanan ; Penerbit Buku Kedokteran, 2006








Senin, 28 Maret 2011

Leukorrhea (atau yang lebih dikenal dengan keputihan)


Penyakit? Bagaimana ekspresi anda jika anda mendengar kata itu? Mungkin untuk membanyangkan saja anda tak berani. Ya, penyakit memang ada di sekitar kita dan bias menyerang kita dimana saja dan kapan saja. Salah satu bagian tubuh kita yang rentan terhadap penyakit adalah organ reproduksi.
            Banyak sekali penyakit yang ditemukan pada organ reproduksi manusia, khususnya wanita. Entah itu disebabkan oleh virus maupun factor lain. Tak jarang banyak wanita menutup usianya pada usia muda hanya karena penyakit pada alat reproduksi.Untuk itu bagi anda yang belum terjangkit apapun, waspada dan pencegahan harus tetap anda lakukan karena kedua hal itu lebih mudah dari pada menghobati.
            Salah satu contoh penyakir organ reproduksi yaitu    Leukorrhea (atau yang lebih dikenal dengan keputihan) dan keluhan gatal yang menyertainya merupakan keluhan yang sering menjadi alasan seorang wanita untuk berobat ke bagian ginekologi. Hal ini dikarenakan banyak diantara mereka yang mengkhawatirkan dirinya mengidap penyakit menular         seksual             ataupun           keganasan.
Leukorrhea dapat menyerang wanita mulai dari anak-anak sampai wanita dewasa atau menopause. Leukorrhea menyebabkan seorang wanita acapkali mengganti pakaian dalamnya atau menggunakan pembalut. Leukorrhea biasanya disertai dengan keluhan lain seperti perasaan gatal, rasa panas pada alat kelamin maupun nyeri sewaktu bersenggama. Keluhan dapat bervariasi dari ringan hingga berat, namun banyak penderita yang tidak menghiraukannya.
I.  PENGERTIAN
Leukorrhea (lekore) atau fluor albus atau keputihan ialah cairan yang keluar dari saluran genitalia wanita yang bersifat berlebihan dan bukan merupakan darah. Menurut kamus kedokteran Dorlan leukorrhea adalah sekret putih yang kental keluar dari vagina maupun rongga uterus. Walaupun arti kata lekore yang sebenarnya adalah sekret yang berwarna putih, tetapi sebetulnya warna sekret bervariasi tergantung penyebabnya. Lekore bukan penyakit melainkan gejala dan merupakan gejala yang sering dijumpai dalamginekologi.

II. PATOFISIOLOGI
   A. Sumber Cairan
       1) Vulva
           Cairan yang berasal dari vulva tidak termasuk sekret vagina akan tetapi penderita    mengeluh keputihan karena tidak mengetahui asal cairan tersebut. Cairan ini dapat berasal dari kelenjar Bartholin yang mempunyai peranan penting dalam pelumasan introitus dan mukosa vulva berupa lendir yang meningkat pada aktifitas seksual. Lendir juga berasal dari daerah periurethral tempat bermuaranya saluran Skene.
      2) Vagina
          Walau vagina tidak mempunyai kelenjar akan tetapi cairan dapat keluar dari permukaan secara transudasi. Cairan bersifat asam karena adanya asam laktat yang diproduksi oleh mikroorganisme terutama bakteri Doderlein.
      3) Serviks
          Kelenjar mukosa serviks adalah penghasil lendir utama. Lendir jernih, basah, jumlah dan kekentalannya bervariasi bergantung dari fase siklus menstruasi. Jumlah terbanyak ialah saat ovulasi, selain karena pengaruh hormon, juga disebabkan oleh hiperemia.
     4) Uterus
         Kelenjar endometrium yang sebelumnya tidak aktif, baru aktif pada fase postovulasi dan sedikit dari cairan ini dapat turun ke vagina, jumlahnya kecil sekali kecuali bila terjadi kelainan dalam hal vaskularisasi, kelainan faktor endokrin, adanya neoplasma atau infeksi.
     5) Tuba
         Walau jarang tetapi mungkin terjadi dalam keadaan tertentu misal salpingitis yang kemudian cairannya masuk uterus dan selanjutnya turun ke vagina.

    B. Komponen Sekret Vagina yang Normal
        Sekret vagina terdiri dari beberapa komponen yang meliputi air, elektrolit, mikroorganisme, sel-sel epitel dan senyawa organik seperti asam lemak, protein dan karbohidrat. Komponen-komponen ini bergabung untuk menghasilkan sekret vagina dengan pH kurang dari 4,5.
Sel epitel berasal dari epitel toraks serviks dan epitel gepeng vagina. Flora vagina yang normal terdiri dari mikroorganisme yang mengkolonisasi cairan vagina dan sel epitel. Leukosit, meskipun normalnya terdapat pada fase sekresi siklus menstruasi, biasanya hanya ditemukan dalam jumlah kecil.

   C. Pengaruh Hormon Seks
       Cairan vagina dan flora mikroba dipengaruhi oleh hormon-hormon seks.
Peningkatan volume dan penurunan viskositas cairan vagina terjadi setelah ovulasi, dalam hal ini hormon progesteron memegang peranan. Estrogen meningkatkan kadar glukosa dalam cairan vagina. Tidak jelas apakah estrogen meningkatkan pergantian glikogen atau kandungan glikogen sel-sel epitel, yang kemudian dapat mempengaruhi jenis organisme yang mengkolonisasi epitel. Sehingga wanita premenarche dan pasca menopause lebih banyak mempunyai bakteri anaerob daripada wanita menstruasi. Wanita dalam masa reproduksi mempunyai lebih banyak bakteri fakultatif yang sebanding termasuk laktobasilus daripada wanita dengan kadar estrogen rendah.

   D. Pengaruh pH dan Glukosa atas Flora Vagina
       Dua faktor lain yang mempengaruhi jenis organisme yang terdapat dalam flora vagina adalah pH dan terdapatnya glukosa. Kandungan glikogen epitel vagina pasti meningkat pada wanita yang menstruasi (dalam masa reproduksi) dibandingkan wanita yang tidak dalam masa reproduksi. Kandungan asam laktat dalam vagina menimbulkan pH yang sangat asam (kurang dari 4,5). Asam laktat diproduksi tidak hanya oleh metabolisme laktobasilus yang menggunakan glukosa sebagai substrat tetapi juga oleh metabolisme bakteri lain yang menggunakan glikogen sebagai substrat dan oleh metabolisme sel-sel epitel vagina yang juga menggunakan glikogen sebagai substrat. Kemudian pH rendah ini menyokong pertumbuhan organisme asidofilik seperti laktobasilus. Terdapatnya laktobasilus mungkin menjadi pusat pembatasan pertumbuhan bakteri lainnya. Kolonisasi laktobasilus vagina yang berat menghambat pertumbuhan organisme lain melalui metabolisme sendiri dengan mempertahankan pH yang rendah dengan menggunakan glukosa untuk menghasilkan asam laktat, dengan memproduksi hidrogen peroksida yang menghambat pertumbuhan bakteri anaerob, dan dengan menggunakan glukosa tersebut memusnahkan organisme lain karena substrat untuk metabolismenya telah dipergunakan. Di antara wanita pasca menopause, kandungan glikogen sel yang rendah karena pengurangan kadar estrogen diperkirakan bertanggung jawab terhadap peningkatan pH vagina. Pada lingkungan pH yang tinggi ini efek penghambatan dan persaingan laktobasilus dihilangkan dengan demikian organisme-organisme lain terutama yang anaerob akan berproliferasi.

   E. Mikro-Ekosistem Epitel Vagina
       Sel-sel epitel mempunyai tempat bagi perlekatan bakteri dan kemampuan bakteri tertentu untuk menempati tempat tersebut berbeda-beda di antara pasien yang satu dengan lainnya. Beberapa wanita sangat rentan terhadap infeksi karena selnya mengandung tempat yang mudah dilekati bakteri. Flora normal yang menempel pada sel-sel epitel vagina dan merupakan mikro-ekosistem epitel vagina akan menghambat pertumbuhan organisme patologik yang berlebihan dengan paling sedikit dua mekanisme. Pertama flora normal pasti menggunakan kedua zat gizi substrat yaitu glukosa dan glikogen. Kedua dengan menghasilkan produk metabolik yang menghambat penempelan dan proliferasi organisme yang berpotensi patogen. Analog dengan mikro flora oral, vagina mungkin mengandung banyak ekosistem mikroba tersendiri, yang bervariasi dalam jarak beberapa milimeter di dalam epitel vagina.

   F. Mikroorganisme yang Terdapat dalam Sekret Vagina yang Normal
       Organisme yang ditemukan pada sekret vagina dalam konsentrasi setinggi 10 satuan pembentuk-koloni/mm3 cairan. Konsentrasi organisme anaerob biasanya kira-kira 5 kali konsentrasi organisme aerob. Rata-rata 5-10 organisme ditemukan dari vagina, meskipun pengambilan bahan contoh ulangan dapat menemukan lebih banyak bakteri. Organisme fakultatif yang paling menonjol adalah spesies laktobasilus, korinebakteria, streptokokus, stafilokokus epidermis dan Gardnerella vaginalis. Sebenarnya semua wanita paling sedikit mempunyai satu organisme fakultatif dan salah satu organisme fakultatif ini dapat ditemukan pada 40-80% wanita. E. coli, merupakan organisme koliformis virulen yang tersering ditemukan, dapat ditemukan dari hanya kira-kira 20% wanita dan pada wanita inipun hanya terdapat secara sepintas. Organisme anaerob yang paling menonjol adalah peptostreptokokus, peptokokus, laktobasilus anaerob, eubakteria; Bacteroides sp., yang ditemukan secara keseluruhan atau sendiri-sendiri pada 20-60% wanita. Candida albicans, organisme jamur tersering ditemukan, terdapat 5-10% wanita. Mycoplasma hominis terdapat pada 20-50% dan Ureaplasma urealyticum terdapat pada 50-70% wanita asimtomatik yang aktif berhubungan seksual.
Jadi sulit sekali menentukan kapan keadaan disebut patologis bila hanya berdasarkan ditemukannya suatu jenis kuman tertentu.

    G. Mekanisme Infeksi Vagina
        Jika keseimbangan kompleks mikroorganisme berubah, maka organisme yang berpotensi patogen, yang merupakan bagian flora normal misalnya C. albicans pada kasus monilia serta G. vaginalis dan bakteri anaerob pada kasus vaginitis nonspesifik, berproloferasi sampai suatu konsentrasi yang berhubungan dengan gejala. Pada mekanisme infeksi lainnya, organisme yang ditularkan melalui hubungan seksual dan bukan merupakan bagian flora normal seperti Trichomonas vaginalis dan Neisseria gonorrhoeae dapat menimbulkan gejala. Gejala yang timbul bila hospes meningkatkan respon peradangan terhadap organisme yang menginfeksi dengan menarik leukosit serta melepas prostaglandin dan komponen respon peradangan lainnya. Gejala ketidaknyamanan dan pruritus vagina berasal dari respon peradangan vagina lokal terhadap infeksi T. vaginalis dan C. albicans. Organisme tertentu yang menarik leukosit termasuk T. vaginalis, menghasilkan sekret purulen. Di antara wanita dengan vaginitis nonspesifik, baunya disebabkan oleh terdapatnya amina yang dibentuk sebagai hasil metabolisme bakteri anaerob. Amina tertentu, khususnya putresin dan kadaverin, sangat berbau busuk. Lainnya seperti histamin dapat menimbulkan ketidaknyamanan oleh karena efek vasodilatasi lokal. Produk metabolisme lain yang dihasilkan pada wanita dengan non spesifik vaginitis seperti propionat dan butirat dapat merusak sel-sel epitel dengan cara yang sama seperti infeksi ginggiva. Eksudat serviks purulenta tersering disebabkan oleh N. Gonorrhoeae, C. Trachomatis atau Herpesvirus hominis, karena organisme penginfeksi ini menarik leukosit. Adanya AKDR dapat menimbulkan endometritis ringan dan atau servisitis, tempat leukosit dikeluarkan ke dalam vagina melalui serviks.


III. ETIOLOGI
      Tujuan pertama adalah membedakan sekret vagina fisiologis atau patologis, dengan kriteria klinis, laboratorium dan mikrobiologi. Setiap penyakit atau kelainan dari organ seperti vagina, serviks, uterus, tuba dapat menimbulkan gejala lekore.

A. Lekore Fisiologis
     Basanya jernih atau putih dan menjadi kekuningan bila kontak dengan udara yang disebabkan oleh proses oksidasi, tidak gatal, tidak mewarnai pakaian dalam dan tidak berbau. Secara mikroskopik terdiri dari dinding vagina, sekresi dari endoserviks berupa mukus, sekresi dari saluran yang lebih atas dalam jumlah yang bervariasi serta mengandung berbagai mikroorganisme terutama lactobacillus doderlein. Memiliki pH < 4,5 yang terjadi karena produksi asam laktat oleh lactobacillus dan metabolisme glikogen pada sel epitel vagina. Lekore fisiologis berasal dari transudat vagian, lendir serviks dan lendir kelenjar bartholin dan skene dan biasa ditemukan pada keadaan antara lain:
1. Bayi baru lahir terutama sampai usia 10 hari, hal ini disebabkan pengaruh estrogen di   plasenta terhadap uterus dan vagina bayi
2. Premenarche
3. Saat sebelum dan sesudah haid
4. Saat atau sekitar ovulasi
5. Kehamilan
6. Faktor psikis
7. Rangsangan seksual pada wanita dewasa
8. Gangguan kondisi tubuh seperti keadaan anemia, kekurangan gizi, kelelahan, kegemukan, usia tua > 45 tahun.

B. Lekore Patologis
    Lekore dikatakan patologis jika terjadi peningkatan volume (khususnya jika membasahai pakaian), terdapat bau yang khas, perubahan konsistensi maupun perubahan warna. Lekore patologis dapat disebabkan oleh:
1) Infeksi
Merupakan penyebab utama dari lekorea patologis, dapat berupa infeksi vagina (vaginitis) dan serviks (servisitis). Penyebab terbesar dari infeksi adalah hubungan seksual. Lekorea karena PMS bersfat abnormal dalam warna, bau atau jumlahnya, dapat disertai gatal pembengkakan disuria, nyeri perut atau pinggang. Sebab lain masuknya kuman bisa pada waktu pemeriksaan dalam, pertolongan persalinan atau abortus, pemasangan AKDR. Perubah flora dapat terjadi karena pencucian vagina yang kurang pada tempatnya, pengobatan yang berlebihan. Pada anak-anak sering karena higienis yang kurang baik.
Berdasarkan penyebabnya, infeksi-infeksi tersebut adalah:
a. Infeksi bakteri
    • Neisseria gonorrhoeae : Gonorrhoe
    • Chlamydia trachomatis : infeksi Chlamydial
    • Gardnerella vaginalis : vaginosis
    • Mycoplasma hominis dan Ureaplasma urealyticum : Mycoplasmosis
b. Infeksi virus
    • Herpes virus (H. Simplex, H. Zoster, Varicella)
    • Poxvirus : Moluscum contagiosum
    • Papovavirus : Condyloma
c. Infeksi jamur
    • Candida albicans : Kandidiasis
d. Infeksi protozoa
    • Trichomonas vaginalis : Trikomoniasis
    • Entamoeba histolytica : Amoebiasis vaginae
e. Infeksi cacing
    • Enterobius vermicularis

IV. DIAGNOSIS
Diagnosis penyebab leukorea dapat dicari dengan memperoleh :
• Anamnesis
   Dengan anamnesis harus terungkap apakah lekore ini termasuk fisiolgis atau patologis. Selain disebabkan karena infeksi harus difikirkan juga kemungkinan ada benda asing atau neoplasma
• Pemeriksaan klinis
   Pada pemeriksaan speculum harus diperhatikan sifat cairannya seperti kekentalan, warn, bau serta kemungkinan adanya benda asing, ulkus dan neoplasma (kelompok khusus). Pemeriksaan dalam dilakukan setelah pengambilan sediaan untuk pemeriksaan laboratorium
• Pemeriksaan laboratorium
   Dibuat sediaan basah NaCl 0,9% fisiologis untuk trikomoniasis, KOH 10% untuk kandidias, pengecatan gram untuk bakteri penyebab gonore. Pemeriksaan tambahan dilakukan bila ada kecurigaan keganasan. Kultur dilakukan pada keadaan klinis ke arah gonore tetapi hasil pemeriksaan gram negatif. Pemeriksaan serologis dilakukan bila kecurigaan ke arah klamidia.

V. TERAPI
1. Trikomoniasis
    • Pilihan utama : metronidazole 3x250 mg/hari, per oral selama 7 hari.
      Jangan diberikan pada wanita hamil, terutama trimester I
    • Pilihan lain : Klotrimazol 100 mg/hari intravagina selama 7 hari.
      Dapat diberikan pada wanita hamil.
    • Partner seksual atau sumber kontak dilakukan pemeriksaan rutin traktus  
      genitourinarius dan pengobatan dengan metronidazole 2 gr peroral dosis tunggal
2. Kandidiasis
    • Pilihan utama:
      o Klotrimazol 100mg/hari selama 7 hari
      o Nistatin 100.000-200.000 unit/hari intra vagina selama 14 hari
   • Pilihan lain :
      o Tiokonazol 300mg per oral, dosis tunggal atau 100 mg/hari selama 3 hari
      o Mikonazol 100mg/hari intravagina selama 7 hari
3. Vaginosis bakteri
    • Pilihan utama: Metronidazol 3x 250mg/hari, oral selama 7 hari
    • Pilihan lain : Ampisilin 4x500mg/hari per oral selama 7 hari
4. Gonore
    • Pilihan utama : Doksisiklin 2x100mg/hari per oral selama 7 hari
    • Pilihan lain :
       o Tetrasiklin 4x500 mg/hari per oral selama 7 hari
       o Penisilin prokain 4,8 juta U i.m. + Probenesid 1 gr per oral
       o Ampisilin 3,5 gr + Probenesid 1 gr per oral
       o Amoksisilin 3 gr + Probenesid 1 gr per oral
5. Klamidiasis
    • Pilihan utama : Doksisiklin 2x 100 mg/hari oral selama 7 hari
    • Pilihan lain :
       o Tetrasiklin 4x500mg/hari oral selama 7 hari
       o Eritromisin 4x500mg/hari per oral selama 7 hari atau
          4x250 mg/hari per os selama 14 hari

ASUHAN KEBIDANAN PADA Nn.” A “ DENGAN FLOUR ALBUS


Tanggal Pengkajian     : 6 Agustus 2010
Jam                              :  08.00 wita
No Rekam Medik       :  -
Dirawat diruang          :  BPS Delima

A.                DATA SUBJEKTIF
1.      Identitas
Nama ibu        :  Nn. A
Umur               : 19 thn
Agama            :  Islam
Suku/Bangsa   :  Sasak/ Indonesia
Pendidikan      :  SMU
Alamat            :  Selong
No.telpon/Hp  :  -
Nama suami   : -
 Umur             :  - 
Agama            : -
Suku/Bangsa   : -
Pendidikan      : -
Alamat            : -
No.telpon/Hp  : -

2.      Keluhan Utama :
Pasien mengeluh mengalami keputihan sejak 15 hari yang lalu, warna kuning kehijau – hijauan, berbau, gatal tapi tidak terlalu banyak

3.      Riwayat Perkawinan
Pasien belum kawin

4.      Riwayat Menstruasi 
Menarche umur 16 tahun. Siklus 28 hari. teratur. Lama 6 hari. sifat darah : encer. Bau amis flour albus ada biasanya sebelum menstruasi. Disminorroe tidak  ada. Banyaknya kurang lebih 10cc. HPM 26 – 7 – 2010



5.      Riwayat Kehamilan, Persalianan dan Nifas Yang Lalu
Hamil ke
Persalinan
Nifas
Tgl lahir
UK
Jenis Persalinan
Penolong
komplikasi
Jenis kehamilan
BB Lahir
laktasi
komplikasi
ibu
bayi



































6.      Riwayat kontrasepsi yang digunakan

No
Jenis kontrasepsi
Mulai memakai
Berhenti/Ganti Cara
Tanggal
Oleh
Tempat
Keluhan
Tanggal
Oleh
Tempat
Keluhan































7.      Riwayat kesehatan
a.       Penyakit sistemik yang pernah diderita/sedang diderita :
Tidak ada
b.      Penyakit yang pernah diderita/sedang diderita keluarga :
Tidak ada
c.       Riwayat penyakit Ginekologi :
Tidak ada
d.      Riwayat penyakit sekarang :
Tidak ada


8.      Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari

a.    Pola Nutrisi

Makan
Minum
Frekuensi
Macam
Jumlah
Keluhan
3 x sehari
Nasi, sayur, lauk
1 porsi
Tidak ada
8 gelas sehari
Air putih
2 liter
Tidak ada

b.   Pola Eliminasi

BAB
BAK
Frekuensi
Warna
Bau
konsistensi
jumlah
1 x sehari
Kuning
Khas feses
Padat

5 – 6 x sehari
Kuning bening
Amoniak
cair

c.    Pola aktivitas
Kegiatan sehari-hari : tidak ada
Istirahat/ tidur : 8 jam sehari
d.   Seksual : Frekuensi
Keluhan : -
e.    Personal Hygiene :
Kebiasaan mandi 2 kali/hari
Kebersihan membersihkan alat kelamin cebok dengan air biasa
Kebersihan mengganti pakaian dalam 1 x sehari
Jenis pakaian dalam yang digunakan cotton

9.      Keadaan Psiko Sosial Spritual
a.    Pengetahuan ibu tentang gangguan/ penyakit yang diderita saat ini :
Tidak ada
b.   Pengetahuan ibu tentang kesehatan reproduksi
Tidak ada
c.    Dukungan suami/ keluarga : -




B.     DATA OBJEKTIF
1.      Pemeriksaan umum
a.       Keadaan umum          : Baik
Kesadaran                   : Compos mentis
BB                               : 47 kg
TB                               : 152 cm
b.      Tanda-tanda vital
Tekanan darah             :110 / 70 mmHg
Nadi                            : 84 ´/menit
Respirasi                      : 22 ´/menit
Suhu                            :37 ÂșC

2.      Pemeriksaan fisik
a.       Kepala dan Leher       
Hiperpigmentasi          : Tidak ada     
Mata                            : Conjungtiva tdk pucat, sklera tdk ikterus    
Mulut                          : bersih, tidak ada karies, bibir tdk pucat       
Leher                           : Tdk ada pembesaran kelenjar           
b.      Payudara                                            
Bentuk                        :  simetris
Puting susu                  :  menonjol
Massa/ Tumor              :  tidak ada
c.       Abdomen
Bentuk                        :  datar
Bekas luka                   :  tidak ada
Massa/tumor                :  tidak ada
d.      Ekstremitas
Edema                         : tidak ada
Varices                        : tidak ada
Reflek patela               : +/+
e.       Genetalia luar
Tanda chadwick          : tidak ada
Varices                        :  tidak ada
Bekas luka                   : tidak ada
Kelenjar bartholini      :  +
Pengeluaran                 : flour albus +, 0,5 ml
f.       Anus                            : tidak terdapat hemoroid
3.      Pemeriksaan dalam/ Ginekologis :
Adanya pengeluaran flour albus 0,5 ml warna kuning kehijauan, tidak ada perdarahan.
4.      Pemeriksaan penunjang :
HB : 11 gr %


ASSESMENT
1.      Diagnosa Kebidanan : Flour albus
Dasar : - Pasien mengatakan keputihan sejak 15 hr yang lalu
            - Adanya pengeluaran flour albus 0,5 ml
2.      Masalah : Ketidaknyamanan
Dasar : - Ibu mengatakan keputihannya berbau dan gatal
3.      Kebutuhan
*      Penjelasan tentang ketidaknyamanan
*      Personal hygiene
*      Pemberian obat oral
*      Anjurkan pasien untuk kontrol bila obat habis atau sewaktu – waktu jika keputihan semakin banyak
4.      Diagnosa potensial
Tidak ada
5.      Masalah potensial
Terjadinya infeksi
6.      Kebutuhan tindakan segera berdasarkan kondisi klien
a.          Mandiri
*      Jelaskan pada pasien tentang ketidaknyamanan oleh karena keputihannya
*      Ajarkan pada pasien tentang personal hygiene
*      Berikan obat oral
b.         Kolaborasi
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotika
c.          Merujuk
Bila perlu lakukan rujukan kalau tidak ada perubahan setelah habis obatnya.

PLANNING (Termasuk Pendokumentasian Implementasi dan Evaluasi)
Tanggal 6 agustus 2010 Jam 08.30 wita
1.      Implementasi
*      Menjelaskan pada pasien tentang ketidaknyamanannya oleh karena adanya pengeluaran dari vaginanya yaitu keputihan yang berwarna kuning kehijau-hijauan, berbau dan gatal tersebut.
*      Mengajarkan pada pasien tentang personal hygiene yaitu khususnya tentang menjaga kebersihan vulva, yaitu dengan cara cebok dari depan ke belakang, mengganti celana dalam sesering mungkin / setiap kali basah, karena pakaian dalam yang basah adalah sumber tempat berkembang biaknya jamur yang menyebabkan terjadinya keputihan.
*      Pemberian obat oral yaitu metronidazol dan parasetamol
*      Menganjurkan pasien untuk datang kontrol kembali bila obat habis atau sewaktu-waktu jika keputihan semakin banyak
2.      Evaluasi
*      Pasien mengerti tentang apa yang dijelaskan bidan dan bersedia untuk melakukannya
*      Pasien bersedia untuk kontrol lagi



                                                                             Tanda tangan


                                                                 (                                        )


Catatan perkembangan  :  tidak ada karena pasien rawat jalan




BAB IV
KESIMPULAN


            Dengan pembahasan diatas maka dapat kita simpulkan bahwa organ reproduksi, terutama pada wanita, sangat kompleks. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai sistem reproduksi wanita dan penyakit apa saja bisa dialami oleh wanita sangat penting untuk diketahui. Dengan demikian wanita dapat menjaga kesehatan organ reproduksinya dan tentu saja dapat menghargai  dirinya dengan baik.






DAFTAR PUSTAKA


1.                  Wijayanegara, Hidayat, Achmad Suardi, Wiryawan Permadi, Tina Dewi    Judistiani. 1997. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr. Hasan Sadikin. Edisi ke II. Bandung: Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FKUP/RSUP Dr. Hasan Sadikin

2. Seluk beluk kesehatan reproduksi wanita, Dita Andira, Plus Books

3. Natakusumah, Rustama. 1992. Penatalaksanaan Umum Keputihan (Lekore). Dalam Kumpulan Makalah Simposium Pengelolaan Keputihan dan Masalah Terkait dalam Rangka Lustrum VII FKUP & HUT RSHS ke-69. Bandung: Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FKUP/RSUP Dr. Hasan Sadikin

4. Ginekologi. Bandung: Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran